Selasa, 26 Maret 2013

Tangan Tangan Pencabut Nyawa


                          Tangan Tangan Pencabut Nyawa
                                  -NUR  ARISKA AULIA AHMAD-
          Anak laki laki itu jatuh menelungkup,kakinya menghantam lantai dengan keras hingga terluka dan mengucurkan darah segar dari dalam tubuhnya.Ia mencoba bangkit dengan air mata menetes di pipinya mencoba menahan sakit di kakinya itu.Ini adalah kesekian kalinya Ia harus menerima perlakuan kasar dari Ayahnya,karena kelancangannya membela Bundanya yang juga di perlakukan dengan tidak manusiawi oleh Ayahnya.
          Anak itu kemudian duduk melantai di kaki sebuah kursi dan menyandarkan dirinya sembari memeluk kedua kakinya,tubuhnya gemetar menahan rasa sakit di dadanya.Bukan rasa sakit karena luka di kakinya tapi rasa sakit melihat Bundanya dicaci maki bahkan di pukuli oleh laki-laki yang sama sekali tidak pantas ia sebut Ayah.Entah apa salah yang telah dilakukan Bundanya hingga setiap Ayahnya pulang ia harus mendapat perlakuan kasar.
          “kaki Raihan gak apa apa kan?” kata Bunda mendekatinya,suaranya masih serak sehabis menangis begitu pun matanya terlihat sembap.
          Raihan hanya terdiam memandang wajah Bundanya yang selalu memancarkan cahaya,yang membuat Bundanya akan selalu terlihat cantik walaupun tak bersolek.
          “Bunda obatin kaki Raihan yah?” tanyanya sekali lagi
          Raihan mengangguk pelan,Bundanya kemudian masuk ke kamar dan tak berselang lama ia melihat Bundanya kembali dengan obat merah dan kapas di tangannya.
          Dengan lembut Bunda membersihkan darah yang berceceran di kaki Raihan dan mengolesinya obat merah agar luka itu tidak infeksi dan cepat mengering.Raihan masih berumur  4 tahun tidak seharusnya anak itu menyaksikan keributan orang tuanya apalagi turut mendapatkan perlakuan kasar karena hal itu akan mempengaruhi kondisi Psikis anak itu.Mungkin hal ini jugalah yang membuat Raihan berbeda dari anak anak lain yang seharusnya menikmati masa kecilnya dengan bermain.Raihan tumbuh menjadi anak yang pendiam dan suka melamun.
          Laki laki berperawakan tinggi besar dengan kumis tebal itu keluar dari dapur.Ia mengendus keras menyaksikan Istrinya mengobati kaki anaknya.Bukannya menyesal telah melukai anaknya laki laki itu malah memandang jijik,pemandangan yang kini terhampar di hadapannya.
          “Muak aku liat muka kalian” ucap laki laki itu lalu pergi meninggalkan Istri dan anaknya.
          “Ayah,mau kemana? Ayah kan baru pulang” tanya Bundanya.
          “Ayah..Ayah aku ini bukan Ayahmu.Sudahlah lebih baik kamu tidak usah mengurusi urusanku.Urus aja tuh anak kamu itu yang sama tidak bergunanya dengan kamu” Bentaknya dengan membanting pintu rumah yang sudah mulai lapuk termakan usia.
                                                             ***
          “Bunda,kalau besar Raihan pengen jadi laki-laki yang kuat supaya Raihan bisa bunuh Ayah.Biar nggak ada lagi yang marahin dan mukulin Bunda” kata Raihan polos pada suatu malam ketika Bundanya hendak menidurkannya.
          “Huss....Raihan gak boleh gitu,biar bagaimanapun Ayah itu orang tuanya Raihan yang harus Raihan hormati.Sejahat apapun Ayah Raihan harus tetap hormat dan berbakti sama Ayah.Karena Ridho orang tua adalah Ridho Allah” Ucap Bundanya dengan mengelus kepalanya.
          Raihan hanya menatap kosong langit langit kamar.Ia tak mau lagi menyambung ucapan Bundanya karena Ia begitu membenci ucapan Bundanya yang selalu saja membela Ayahnya walaupun Bundanya selalu mendapat perlakuan kasar tapi tak pernah tertanam atau bahkan terlintas sedikitpun rasa benci di hatinya seperti apa yang kini memenuhi hati dan otak Raihan.
                                                        ***
         
13 Tahun Kemudian,  
          Lengan lengan Fajar merengkuh subuh.Butiran butiran embun mulai berjatuhan menyentuh bumi dengan anggun,membagi kesejukannya untuk semua makhluk di muka bumi ini.Suara kokokan ayam ayam yang saling beradu nyaring mewarnai pagi yang cerah itu.Raihan terbangun,dengan gerakan lincah ia melompat dari tempat tidur,menyibak tirai jendela dan kemudian membuka jendela kamarnya.
          Sungguh karunia yang tak bisa ia ingkari.Ia masih bisa menghirup udara yang segar ini disaat sebagian orang hanya bisa menghirup udara pengap yang telah terjangkit polusi udara yang mungkin saja akan merusak alat alat pernafasan mereka.Matanya memandang jauh menerawang langit jingga shubuh itu.Hari ini adalah hari besar dalam hidupnya,sebentar lagi ia akan menghadiri acara penamatan di sekolahnya.Raihan dinyatakan lulus setelah mengikuti Ujian Nasional sebulan lalu.
          Setelah mandi dan shalat shubuh Raihan bersiap siap untuk acara hari ini.Ia mengenakan kemeja putih dengan setelan jas hitam hadiah dari Bundanya.Berkali kali Raihan bolak balik kedepan kaca hanya untuk memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya.Bundanya hanya geleng geleng dan tersenyum melihat tingkah Raihan.
          Terakhir untuk menyempurnakan penampilannya hari ini Raihan memakai sepatu hitam yang semalaman telah ia gosok dengan semir agar sepatu itu bisa mengkilap.Sepatu itu adalah sepatu merek terbaik yang pernah ia miliki.Untuk membeli sepatu itu Raihan harus menabung selama tiga bulan.Begitulah Raihan sangat ambisius terhadap sesuatu yang benar benar ia inginkan.
          Suara desingan mesin jahit Bundanya berhenti.
          “Sarapan dulu Ray,Bunda akan bakarkan Roti” kata Bundanya bangkit dari tempat duduknya.
          Suara gaduh sendok yang beradu dengan gelas terdengar dari dapur.Rupanya Bundanya tak hanya membakarkan Roti untuk Raihan tapi juga membuatkan segelas susu.Di mata Raihan Bundanya adalah semangat hidupnya,ia begitu menyayangi Bundanya dan berjanji akan selau membahagiakan Bundanya.
          “Makasih yah Bunda” ucapnya melahap Roti bakar buatan Bundanya
          “Iyya sayang,Kamu harus jadi anak yang baik yang berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi orang lain.Bunda hanya berpesan kamu jangan pernah lupa sama tuhanmu walaupun Ilmu mu sudah tinggi kamu nggak boleh sombong.Ilmu tanpa Agama itu buta dan Agama tanpa ilmu itu lumpuh”.ucap Bunda sambil mengelus kepala Raihan masih dengan kelembutan yang sama seperti saat saat sebelumnya.
          “Iyya Bund,Raihan janji” ucap Raihan dengan tatapan penuh kasih kepada wanita yang duduk dihadapannya itu.
          Raihan pamit dengan mencium tangan Bundanya dan dengan jahilnya ia juga mencuri kesempatan mencium pipi Bundanya lalu tertawa tawa dan kabur.Dan sekali lagi Bundanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan manja putra semata wayangnya.Satu satunya orang tempatnya menggantungkan harapan harapannya.
                                                            ***
          Bus yang di tumpangi Raihan berhenti di terminal yang berada tepat didepan sebuah Pusat Pasar Tradisional yang selama ini melayani segala kebutuhan dikota ini.Rumah Raihan terletak tidak jauh dari pasar ini.Ia hanya perlu berjalan beberapa meter untuk sampai dirumahnya dari Pasar ini.
          Raihan berlari dengan tergesa-gesa.ia tak sabar ingin pulang kerumah karena Ia punya berita baik yang harus segera ia sampaikan pada Bundanya.Raihan menjadi lulusan terbaik di sekolahnya dan Ia dinyatakan bebas tes untuk menimba Ilmu di Insitut Teknologi terbaik di negeri ini.Berita ini tentu saja akan membuat Bundanya sangat bahagia tapi mungkin tidak akan berpengaruh apa apa pada Ayahnya yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak pernah pulang kerumah.Tapi itu bukan sebuah masalah bagi Raihan bahkan itulah yang ia inginkan.Ayahnya tidak lagi mengganggu kebahagiannya dengan Bundanya toh tanpa ayahnya sekalipun mereka masih bisa makan dan hidup.
                                                          ***
          Setelah sampai dirumah,Raihan tak menemukan Ibunya duduk di depan mesin jahitnya.Tiba tiba perasaan tidak enak memenuhi hatinya.Dengan nafas tersengal ia memanggil manggil Bundanya namun tak ada jawaban.   
          Alangkah terkejutnya Raihan ketika menemukan tubuh Bundanya yang tak berdaya dengan luka memar di badannya di ruang dapur.Raihan memeriksa denyut nadi Bundanya ia masih menemukannnya.ia segera membawa Ibunya kerumah sakit.Tapi belum sampai dirumah sakit Bundanya telah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa kata kata atau pesan terkhir untuk Raihan.
          Yang paling menyesakkan hati Raihan adalah bahkan Bundanya belum sempat mendengar kalau ia menjadi lulusan terbaik di sekolah.Ia sama sekali belum membahagiakan Bundanya sampai akhirnya Bundanya harus pergi untuk selamanya.
          Butiran Air mengalir deras di pipinya,aliran air itu bersumber dimatanya.Ia tahu betul penyebab kematian Bundanya karena perbuatan Ayahnya sendiri.Raihan mendengar sendiri dari beberapa tetangganya kalau sebelum kejadian itu Ayahnya pulang dan mereka mendengar jeritan dari rumah Bundanya.
                                                        ***
          Dua hari sudah setelah kematian Bundanya,Raihan masih tidak bisa menerima kenyataan itu.Sejak hari itu ia tak pernah berbicara kepada siapa pun hanya air mata dan gurat kesedihan yang mewakili seluruh perasaan yang kini ia rasakan.
          “Lastri....lastri dimana kamu,buatkan aku kopi” teriakan itu memecah lamunan Raihan yang duduk di ruang tamu.Ia melihat sosok laki-laki yang sudah membuat Bundanya pergi.Raihan menatap tajam penuh kebencian.
          “Eh,mana Bunda kamu yang tak berguna itu??” tanya laki-laki itu dengan langkah yang sempoyongan laki-laki itu pasti habis menenggak minuman keras.
          Raihan berdiri dan menghampiri laki-laki itu dengan tatapan yang masih tajam bahkan jauh lebih tajam dari sebelumnya.Ia mencengkram kerah baju laki-laki itu dan memukuli perutnya beberapa kali denagn sekuat tenaganya.
          “Kamu mau tahu Bundaku dimana??Bundaku sudah mati” ucapnya dengan linangan air mata lalu di susul dengan pukulan yang keras untuk laki-laki itu.
          Ayahnya mencoba membela diri tapi karena kondisinya  yang sedang mabuk membuatnya tak bisa mengeluarkan tenaga namun meski begitu ia masih bisa membalas pukulan Raihan.
          “Hahahahah baguslah jadi tidak ada lagi yang cerewet menggangguku,dan sekarang giliran kamu menyusul Bundamu yang tak berguna itu yang bisanya nangis kayak kamu” kata Ayahnya.
          Raihan jatuh tersungkur,tapi ia tak merasakan sakit sedikit pun rasa bencinya terhadap Ayahnya jauh lebih besar.Tangannya meraih kursi dan menghantam laki-laki itu,dan Raihan terus mengulanginya hingga laki laki itu mengerang kesakitan tak berdaya.Kursi itu kini tinggal potongan potongan balok kayu.
          “Kamu bukan Ayahku,kamu yang tidak berguna dan kamu yang harus menyusul Bunda ke kuburan” teriak Raihan disusul dengan pukulan keras yang menghantam kepala laki-laki itu dan pukulan itu benar benar berhasil mengantar laki-laki itu menemui ajalnya.
          “Hey...bangun kamu,katanya kamu akan membuat aku menyusul Bunda” Ia menggoyang-goyangkan laki-laki yang kini tak bernyawa itu dengan kakinya namun laki-laki itu sama sekali tak bergerak.Ia menyadari bahwa laki-laki itu telah tiada.
          Raihan melepas balok yang ada ditangannya ia menangis sesenggukan dan kemudian tertawa terbahak-bahak.kelakuannya tepat seperti orang gila.
          “Bunda.....lihat laki-laki yang sering menyiksamu.laki-laki yang sangat tidak pantas mendampingi kelembutan hatimu.Hari ini Ray udah membalaskan semua perbuatannya yang selalu menyakiti Bunda.Hari ini Ray udah mengirim dia menyusul Bunda untuk memohon ampun pada Bunda” Batin Raihan.
          Raihan kemudian mengingat pesan Bundanya tiga belas tahun lalu.Tepat ketika ia menyampaikan rencana yang berhasil ia realisasikan hari ini.Bundanya memintanya agar menjadi anak yang berbakti.Seketika penyesalan yang amat sangat menelusup kehatinya.Ia sadar betul perbuatannya ini pasti mengecawakan Bundanya.Bundanya tidak pernah mengajarkannya membalas kejahatan dengan kejahatan.
          Lututnya patut gemetar memohon ampun kepada Tuhan.Raihan memandang kedua tangannya yang telah menjadi malaikat pencabut nyawa untuk Ayahnya sendiri seperti yang pernah dikatakan Bundanya sejahat apapun laki-laki itu tetaplah Ayahnya.Begitulah penyesalan akan selalu datang di akhir.Namun penyesalan tinggal penyesalan takkan merubah apa pun.Sebesar apa pun penyesalannya takkan bisa menghidupkan kembali Ayahnya.
                                                 -THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar